Adat Indonesia

Blog tentang adat istiadat di Indonesia

Senin, 23 November 2015

Rumah Adat Suku Asmat



Rumah Adat Suku Asmat - Jika kita mendengar suku yang terbesar di tanah Papua kalian pasti akan mengingat dengan Suku Asmat. Sedikit mengingatkan kalau SukuAsmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Tapi bukan hanya ukiran kayu saja yang menarik dari Suku Asmat ini, tapi banyak sekali kebudayaan-kebudayaan yang sangat unik dan menarik untuk dibahas salah satunya rumah adatnya.

Mungkin sebagian orang mengenal rumah adat Suku Asmat adalah rumah Honai, ternyata rumah adat Suku Asmat adalah Rumah adat yang bernama Jew (Rumah Bujang). Rumah Honai sendiri sebenarnya rumah adat Suku Dani yang dijadikan rumah adat Papua. Rumah Jew memang memiliki posisi yang istimewa dalam struktur  suku Asmat. Dirumah bujang ini dibicarakan segala urusan yang menyangkut kehidupan warga, mulai dari perencanaan perang, keputusan yang menyangkut desa mereka, melakukan pekerjaan membuat noken (tas tradisional Suku Asmat), mengukir kayu, dan juga tempat tinggal para bujang. Oleh karena itu, rumah Jew juga disebut sebagai Rumah Bujang. Jew adalah tempat yang dianggap sakral bagi suku Asmat.
Rumah adat suku Asmat terbuat dari kayu dan selalu didirikan menghadap ke arah sungai. Panjang rumah suku Asmat ini bisa mencapai berpuluh-puluh meter, bahkan ada yang sampai 50 meter dengan lebar belasan meter. Rumah adat merupakan bangunan yang cukup panjang untuk bangunan kayu, namun berdirnya bangunan sepanjang itu, merupakan gambaran adanya persatuan, dan nilai kegotong-royongan yang dimiliki oleh masyarakat Asmat.
Sebagai tiang penyangga utama rumah adat ini mereka menggunakan kayu besi yang kemudian di ukir dengan seni ukir suku Asmat. Sebagai pengikat sambunagn kayu mereka menggunakan tali rotan. Bagian atas rumah suku Asmat ini terbuat dari daun sagu atau daun nipah yang telah dianyam. Biasanya warga penduduk beramai-ramai  menganyamnya hingga selesai. Dan bagian tangganya terbuat dari rangakain kayu bulat yang panjangnya sama dengan ukuran rumah.
Selain untuk membicarakan segala urusan, didalam rumah adat suku Asmat ini juga tersimpan Noken persenjataan suku Asmat, seperti tombak, panah untuk berburu, dan noken yang telah dibuat tadi. Tidak sembarang orang boleh menyentuh noken yang tersimpan di dalam rumah adat suku Asmat. Noken ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Ada yang menarik, bahwa wanita tidak boleh ada di dalam rumah Jew, wanita hanya datang membawa hasil alam yang mereka peroleh sepanjang hari, misalnya sagu, ulat sagu, kelapa ikan dan lain-lain.
Jumlah pintu Jew sama dengan jumlah tungku api dan patung Bisj. Patung Bisj mencerminkan gambaan leluhurr dari masing-masing rumpun suku Asmat. Mereka percaya patung-patung ini menjaga rumah mereka dari pengaruh jahat. Jumlah pintu ini juga di anggap mencerminkan jumlah rumpun suku Amat yang berdiam di sekitar Rumah Adat Suku Asmat tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar