Adat Indonesia

Blog tentang adat istiadat di Indonesia

Kamis, 10 Maret 2016

Masjid Al-Mubaraq Karimun Kepulauan Riau

Masjid Al Mubaraq (https://simas.kemenag.go.id)

Masjid Al Mubaraq, luas tanah 3.600 m2 dan luas bangunan masjid 242 m2, terletak di Kelurahan Merai, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Propinsi Kepulauan Riau, tidak jauh dari pusat kota Karimun, tepatnya di pinggir pantai. Bagi warga tempatan, masjid ini merupakan barang peninggalan sejarah Melayu yang sangat berharga. Betapa tidak, masjid kokoh dengan arsitek unik dan bernilai tinggi pada masa abad ke-17 ini, dibangun oleh Raja Abdullah Bin Raja Ahmad Engku Tuah cucu dari Raja Haji Fisabillilah. Dari catatan sejarah, Masjid Al-Mubaraq dibangun pada tahun 1873 Masehi, tertua ketiga di wilayah Provinsi Kepri.

Sejarah

Masjid Al Mubaraq (https://simas.kemenag.go.id)

Sesuai sejarah, seorang tokoh agama, Raja Sirwansyah atau yang akrab disapa Raja Iwan mengatakan, pelabuhan pertama di Karimun berada di depan Masjid Al-Mubaraq, Meral. Karena di daerah Meral itu adalam tempat kapal para saudagar dari Arab, China dan India singgah dan mengumpulkan rempah-rempah.

Justru itu, para saudagar mengembangkan syiar agama Islam dan membangun masjid. Setelah selesai dibangun, Masjid Al-Mubaraq menjadi masjid pertama untuk di Pulau Karimun. Untuk di Kepri, masjid ini tertua ketiga, setelah Masjid Raja Abdul Rani di Pulau Buru. Dahulunya Masjid Al-Mubaraq di Meral menjadi pusat pengembangan dan menjalankan syiar Islam, sebagai pemerintahan dan pusat perdagangan. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, pusat perdagangan sudah menyebar di seluruh wilayah Kepri. Saat ini Masjid Al Mubaraq diurus oleh keturunan dari Raja Abdullah.

Arsitektur


Dari catatan sejarah, pembangunan Masjid Al-Mubaraq membutuhkan waktu sekitar 3 tahun. Pembangunan masjid yang bercorak Arab, China dan India ini pernah digunakan oleh seorang saudagar yang singgah kala itu, untuk menunaikan salat lima waktu.

Diskripsi Bangunan

Masjid bersejarah ini dibangun dengan bahan yang unik. Bangunan masjid itu tidak dibangun dengan bahan material bangunan seperti masa sekarang. Tapi, dibangun dengan campuran tanah liat dengan putih telur. Sama dengan bahan pembangunan Masjid Raya Sultan Riau, di Pulau Penyengat.

Dinding

Hingga sekarang yang masih asli adalah dinding masjid, sementara menara dan mimbar disesuaikan dengan bentuk aslinya, Dinding luar Masjid Al Mubaroq sengaja dicat kuning melambangkan kesejahteraan rakyat semasa pemerintahan raja, sedangkan dinding dalam dicat hijau melambangkan kemakmuran. Warna tersebut sama dengan Masjid Pulau Penyengat, karena kami satu keturunan dengan raja disana.

Kegiatan

Kegiatan di Masjid Al-Mubaraq (https://kemenagkarimun.blogspot.co.id)

Untuk memuliakan Masjid Al-Mubaraq, selain tempat ibadah salat lima waktu, pengurus masjid membuka pusat belajar mengaji alquran. Dari usia anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan di masjid ini pula menjadi tempat bermusyawarah tentang pemahaman ilmu agama Islam. ”Ke depan, kita berencana menjadikan Masjid Al-Mubaraq Meral ini sebagai pusat sejarah Karimun dan sejarah masuknya Islam ke bumi berazam Karimun. Sudah tepat jika masjid ini menjadi tempat wisata religi,” demikian Raja Iwan mengahiri.

Pemugaran

Masjid Al Mubaraq (https://simas.kemenag.go.id)

Masjid Al Mubaroq telah empat kali mengalami pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan oleh Raja Usman (Bukan Raja Usman yang Ketua Masjid sekarang-red) pada tahun 1930-an, atap yang semula dari daun rumbia digantinya dengan atap genteng setelah masuknya Belanda ke Karimun. Namun, pada saat itu corak bangunan masih belum berubah.

Berubahnya corak bangunan terjadi pada pemugaran kedua yang dilakukan oleh Raja Muhammad Sum Nur sekitar tahun 1970-an. Bangunan yang semula terdapat teras, akhirnya dipugar menjadi satu bangunan saja. Begitupun, lonceng untuk memanggil jemaah sholat Jumat dan beduk tidak ada lagi.

Pemugaran ketiga dilakukan oleh Raja Adnan Daud pada tahun 2003. Semasa Raja Adnan Daud, tempat wudhu diganti dan diperlebar, begitupun halamannya makin diperluas hingga ke pinggir laut. Tempat wudhu dulu namanya kolah. Sampai sekarang di tempat wudhu perempuan masih terdapat batu persegi delapan yang sengaja didatangkan dari Aceh.

Barulah pada tahun 2010 yang lalu, Raja Usman kembali memugar Masjid Al Mubaroq. Ia kembali membangun teras masjid. Sebelumnya, teras hanya terdapat di belakang, namun sekarang ia malah membangun teras hingga ke sekeliling masjid. Ia juga tetap mempertahankan bentuk bangunan atap, mimbar, menara dan teras masjid tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar