Adat Indonesia

Blog tentang adat istiadat di Indonesia

Jumat, 11 Maret 2016

Masjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh Jambi

Masjid Agung Pondok Tinggi (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Masjid Agung Pondok Tinggi terletak di Desa atau kelurahan Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh, Kota Sungai Penuh, Propinsi Jambi.

Sejarah

Masjid Agung Pondok Tinggi (https://archive.kaskus.co.id)

Masjid Agung Pondok Tinggi didirikan pada hari rabu pada tanggal 1 Juni 1874, dipilihnya pada hari rabu ini menurut adat setempat merupakan hari terbaik mendirikan rumah atau bangunan.

Masjid dibangun atas dasar gotong royong masyarakat yang dipimpin oleh pemuka adat dan agama, dipati, ninik mamak, serta cerdik pandai. Kayu-kayu sebagai bahan dasar bangunan dikumpulkan sebelum melakukan pembangunan. Setelah bahan terkumpul, dilakukan pemilihan panitia yang diketuai oleh jenang. Terpilih desain dari Nuryan M. Tiru dari Rio Mandaro. Tujuh hari tujuh malam saat awal pembangunan dilakukan berbagai macam atraksi dengan mengorbankan 12 ekor kerbau.

Semula Masjid Agung Pondok Tinggi dinamakan Masjid Pondok Tinggi karena Bung Hatta (Wakil Presiden RI) berkunjung ke Sungai Penuh menyebut Masjid Agung maka sampai sekarang masjid disebut dengan Masjid Agung Pondok Tinggi.

Arsitektur


Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan salah satu masjid kuno dengan arsitektur khas Nusantara, beratap tumpang dan berkontruksi kayu. Demikian halnya pada interior masjid berupa dinding-dinding dan tiang kayu yang didominasi dengan ukiran khas Kerinci, motif sulur-suluran, hiasan geometris, dan pada bagian lain dinding juga terdapat ukiran terawangan yang juga berfungsi sebagai fentilasi udara. Di dalam masjid juga tersimpan sebuah bedug larangan yang cukup panjang lebih dari 5 meter. Menurut adat masyarakat Kerinci fungsinya adalah dibunyikan sebagai sarana komunikasi untuk berkumpul atau menandai peristiwa tertentu.

Diskripsi Bangunan

Bangunan Masjid Agung Pondok Tinggi menghadap ke timur, berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap.

Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif tumbuhan dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Dilengkapi dengan berbagai hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran.

Atap

Atap dan ornamen (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Atap bangunan masjid Agung Pondok Tinggi berupa atap tumpang bersusun tiga tingkat yang semakin mengecil ke atas, dibawahnya terdapat berbagai ornamen. Atap teratas berbentuk limasan yang pada puncaknya melambangkan susunan pemerintahan yang ada di Dusun Pondok Tinggi.

Detail ornamen dibawah atap (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Dinding dan Lantai

Dinding luar (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Dinding dalam (https://hafifulhadi.blogspot.co.id)

Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif flora dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin.

Detail ornamen di dinding (https://dananwahyu.com)

Pintu

Salah satu pintu dengan ornamen (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Di dalam masjid terdapat 36 buah tiang kayu berbentuk segi delapan dan berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Tiang-tiang tersebut dikelompokkan menjadi 3, yakni kelompok 1 terdiri atas 4 buah tiang berdiameter 0,90 m yang terletak di tengah-tengah ruang utama masjid. Kelompok 2 terdiri atas 8 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 1. Kelompok 3 terdiri atas 24 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 2.

Ruang Utama

Ruang utama dengan 36 tiang (https://dananwahyu.com)

Untuk memasuki ruang utama terdapat pintu di sisi timur bangunan. Di dalam ruang utama berdiri 36 tiang sebagai penopang atap yang terbagi ke dalam tiga kelompok. Pertama, 4 buah tiang panjang sambilea (15 m) yang disebut tiang tuao (soko guru) berbentuk segi delapan dan berpelipit. Kedua, 8 buah tiang panjang limau (8 m) berbentuk segi delapan yang membentuk segi empat diluar soko guru. Terakhir, 24 buah tiang panjang duea (5,5 m) membentuk segi empat terluar dan merupakan tiang dasar sebagai penyangga serta berjajar tujuh buah tiang. Selain ke-36 tiang tersebut ada pula tiang sambut, yakni tiang yang tergantung dan tidak bertumpu pada tanah tetapi terikat pada kayu-kayu alang. Setiap tiang dihubungkan dengan papan penguat yang berukir sulur-sulur. Kemudian pada tiang-tiang yang menyerupai pasak memiliki hiasan berbentuk kepala gajah.

Ruang utama (https://dananwahyu.com)

Mihrab dan Mimbar

Mihrab (https://fallenpx.blogspot.co.id)

Pada sisi barat ruang utama terdapat penampil yang berfungsi sebagai mihrab berdenah persegi panjang. Pada dindingnya terdapat hiasan bunga dari porselin buatan Belanda.

Mihrab merupakan bangunan tambahan terbuat dari tembok yang dibangun pada tahun 1916. Pintu mihrab berada di sisi timur berjumlah dua. Bagian depannya berbentuk lengkungan berhiaskan motif geometris dan sulur. Atap mihrab berbentuk kubah dengan mustaka di atasnya. Mihrab masjid terletak di sebelah barat, berdenah persegi panjang dengan ukuran 3,10 x 2,40 m. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan ukiran motif geometris dan sulur-suluran, serta tempelan tegel keramik.

Mimbar (https://fallenpx.blogspot.co.id)

Di sebelah utara mihrab terdapat mimbar yang ditopang oleh enam buah tiang dan memiliki tiga anak tangga sebagai jalan masuk. Hiasan pada mimbar menyerupai bunga padma kala makara dan daun-daunan.

Tempat Adzan

Tempat Muadzin mengumandangkan adzan (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tempat adzan berada pada bagian tengah masjid di atas alang yang dihubungkan tangga. Tempat masjid berupa anjungan dengan dinding terbuat dari papan. Bagian tengahnya memiliki tangga untuk naik ke tempat adzan dengan 17 anak tangga, dimana tempat adzan berada 5 meter di atas lantai. Keunikan lain dari masjid ini adalah tempat muadzin mengumandangkan adzan terletak di atas tiang utama masjid. Untuk mencapainya dihubungkan dengan tangga berukir motif sulur-suluran dan diakhiri sebuah panggung kecil berbentuk bujur sangkar yang berukuran 2,60 x 2,60 m dikelilingi pagar berhias ukiran motif flora. Panggung kecil inilah yang merupakan tempat muadzin berdiri dan mengumandangkan adzan. Sedangkan bagian mimbar masjid berukuran 2,40 x 2,80 m, dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan atap berbentuk kubah.

Bedug

Tabuh Larangan (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Di dalam masjid juga terdapat dua buah bedug. Bedug pertama disebut tabuh larangan terbuat dari satu batang pohon dan dipukul atau dibunyikan bila ada bahaya. Bedug kedua berfungsi sebagai pemberi tanda waktu shalat. Tali pengikat bedug terbuat dari kulit sapi atau kerbau dan disebut saoh. Atap bangunan masjid berupa atap tumpang bersusun tiga tingkat yang semakin mengecil ke atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar