Adat Indonesia

Blog tentang adat istiadat di Indonesia

Senin, 02 Mei 2016

Prosesi Pernikahan Adat Situbondo Jawa Timur

Pernikahan Adat Situbondo (https://snowfrogpunyacerita.blogspot.co.id)

Hubungan cinta kasih wanita dengan pria, setelah melalui proses dan pertimbangan, biasanya dimantapkan dalam sebuah tali perkawinan, hubungan dan hidup bersama secara resmi selaku suami istri dari segi hukum agama dan adat.

Begitu juga di Situbondo dan juga ditempat lain, pada prinsipnya perkawinan terjadi karena keputusan dua insan yang saling jatuh cinta.Itu merupakan hal yang prinsip. Meski ada juga perkawinan yang terjadi karena dijodohkan orang tua yang terjadi dimasa lalu.Sementara orang-orang tua zaman dulu berkilah melalui pepatah : Witing tresno jalaran soko kulino, artinya : Cinta tumbuh karena terbiasa.

Di Situbondo dimana kehidupan kekeluargaan masih kuat, sebuah perkawinan tentu akan mempertemukan dua buah keluarga besar. Oleh karena itu, sesuai kebiasaan yang berlaku, kedua insan yang berkasihan akan memberitahu keluarga masing-masing bahwa mereka telah menemukan pasangan yang cocok dan ideal untuk dijadikan suami atau istrinya.

Pertimbangan Bibit, Bebet dan Bobot

Untuk menerima seorang besan biasanya keluarga melakukan pertiimbangan. Kalo secara tradisional, pertimbangan penerimaan seorang calon menantu berdasarkan kepada bibit, bebetdan bobot.

Bibit, artinya mempunyai latar kehidupan keluarga yang baik.
Bebet, calon penganten, terutama pria, mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bobot, kedua calon penganten adalah orang yang berkwalitas, bermental baik dan berpendidikan cukup.

Terkadang dari hal tersebut masih belum cukup karena penentuan Bibit Bobot per keluarga tidak sama, tapi hal ini tidak terlalu signifikan dalam adat pertungan Situbondo.

Pinangan (Melamar)

Biasanya yang melamar adalah pihak calon penganten pria. Pada masa lalu, orang tua calon penganten pria mengutus salah seorang anggota keluarganya untuk meminang.

Tetapi kini, untuk praktisnya orang tua pihak lelaki bisa langsung meminang kepada orang tua pihak wanita . Bila sudah diterima, langsung akan dibicarakan langkah-langkah selanjutnya sampai terjadinya upacara perkawinan.

Hal-Hal Yang Perlu Dibicarakan Dalam Peminangan

Tanggal dan hari pelaksanaan perkawinan, ditentukan kapan pernikahannya, jam berapa, biasanya dicari hari baik. Kalau hari pernikahan sudah ditentukan, upacara lain yang terkait seperti :peningsetan, siraman, midodareni, panggih, resepsi dll, tinggal disesuaikan.

Tidak kurang penting adalah pemilihan seorang pemaes, juru rias penganten tradisional.Dalam upacara perkawinan tradisional, peran seorang perias temanten sangat besar, karena dia beserta asisten-asistennya akan membimbing, paling tidak memberitahu seluruh pelaksanaan upacara, lengkap dengan sesaji yang diperlukan. Seorang pemaes yang kondang, mumpuni dan ahli dalam bidangnya, biasanya juga punya jadwal yang ketat, karena laris, diminta merias dibanyak tempat, terlebih dibulan-bulan baik menurut perhitungan kalender Jawa. Oleh karena itu, perias temanten harus dipesan jauh hari.

Perlu diprioritaskan pula pemilihan tempat untuk pelaksanaan upacara perkawinan itu. Misalnya dimana tempat akad nikah, temu manten dan resepsinya. Apakah akan dilaksanakan dirumah, disebuah gedung pertemuan atau dihotel.

Dalam pelaksanaan perkawinan adat Situbondo, pihak calon penganten wanita secara resmi adalah yang punya gawe, pihak pria membantu. Bagaimana pelaksanaan upacara perkawinan, apakah sederhana, sedang-sedang saja atau pesta besar yang mengundang banyak tamu dan lengkap dengan hiburan, secara realitas itu tentu tergantung kepada anggaran yang tersedia. Pada saat ini kedua pihak sudah lebih terbuka membicarakan budget tersebut.

Lamaran

Ada lamaran di daerah kecamatan Asembagus biasanya keluarga laki-laki datang ke rumah perempuan yang mana sebelum dilakukan lamaran biasanya didahului dengan adanya Ngangini (memberi angin/memberi kabar) hal ini sekedar memastikan bahwa si keluarga laki-laki akan berjunjung kesanan untuk melakukan lamaran.

Alamar Nyaba “Jajan”

Hal ini merupakan salah satu hal yang penting karena merupakan sebuah simbolisasi bahwa keluarga tersebut akan mengikat tali kekerabatan yang sangat dekat. Biasanya kue yang di bawa oleh si keluarga laki-laki seperti kue dodol, kue wajik, dan lain-lain yang mana kue tersebut memiliki makna tersendiri.

Nyeddek Temmo (menentukan tanggal hari H perkawinan)

Biasanya dalam menentukan hari H pernikahan di tentukan menurut hari baik dalam islam seperti pada bulan syawal, tapi terkadang juga menurut hari lahir kedua calon pengantin.

Acara pernikahan

Acara pernikahan akan dilksanakan secara 2 (dua) kali entah dari si calon pengantin laki-laki ataupun si calon penganti wanita itu semua tergantung kesepakatan diantara kedua belah pihak. Adapun hal-hal yang perlu dilaksanakan dalam acara pernikahan.

Pemasangan Tarub

Sehari sebelum upacara perkawinan, rumah orang tua mempelai wanita dipasangi tarub dan bleketepe dipintu masuk halaman depan.Dibuat gapura yang dihiasi tarub yang terdiri dari berbagai tumbuhan ,yaitu tanaman dan dedaunan yang punya arti simbolis.

Dikiri kanan gapura dipasang pohon pisang yang sedang berbuah pisang yang telah matang artinya, Suami akan menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan bermasyarakat.Seperti pohon pisang yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungan, keluarga baru ini juga akan hidup bahagia, sejahtera dan rukun dengan lingkungan sekitarnya.

Sepasang tebu wulung, pohon tebu yang berwarna kemerahan, merupakan simbol mantapnya kalbu, pasangan baru ini akan membina dengan sepenuh hati keluarga mereka.

Cengkir gading atau kelapa kecil berwarna kuning, melambangkan kencangnya kuatnya pikiran baik, sehingga pasangan ini dengan sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama yang saling mencinta.

Upacara Ijab

Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.

Resepsi pernikahan

Dalam hal ini biasanya tuan rumah hanya mengundang kerabat dekat saja. Bisa dikatakan kalau acara ini adalah acara tertutup untuk orang lain atau acara keluarga saja.

Walimatur ursy

Walimatul ursy merupakan sebuah acara syukuran sekaligus untuk mengabarkan bahwa si A dan si B sudah resmi menjadi suami istri biasanya dilaksanakn dengan mengundang tetangga dekat dan kerabat dekat saja untuk hadir dalam acara tersebut. Dalam walimatul ursy biasanya di hadirka penceramah yang akan menyampaikan hikmah-hikmah dari nikah.

Ritual Komantan Korong

Ritual Komantan Korong (https://mantenhouse.com)

Dimana ritual Komantan Korong ini dilakukan warga saat pernikahan berlangsung, dimana pengantin laki-laki dimasukkan ke dalam kurungan kemudian di arak mengelilingi sejumlah desa yang tersebar didaerah tersebut.

Kepercayaan masyarakat Situbundo khususnya Desa Asembagus ada baiknya untuk dijadikan sebuah pembelajaran, sehingga diyakini ketika seorang laki-laki yang telah menikah dan ketika sudah diarak keliling desa mengingatkan kepada perempuan yang ada di desa tersebut kalau laki-laki yang diarak tersebut telah menikah. Sehingga, bagi perempuan yang ada di desa tersebut tidak coba-coba untuk main hati dengan laki-laki yang telah dikurung dan diarak keliling desa.

Sebenarnya ritual ini telah ada sejak tahun 1800-an. Karena sempat surut keberadaannya, budayawan setempat sepakat untuk menghidupkan ritual ini kembali, karena memiliki tujuan yang baik dan luhur, selain demi melestarikan kebudayaan yang telah lama ada dan turun temurun.

Mamacan

Mamacan adalah acara salaman-salama antara pengantin laki-laki dengan para undangan yang hadir dalam walimah tersebut sebagai symbol bahwa agar supaya di doakan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.

Ulem-ulem dilaksanakan setelah walimatul ursy biasanya di habiri oleh ibuk-ibuk yang mana mereka memmbawa sesuatu seebagai bantuan biasanaya berupa uang ataupun barang berupa beras. Ulem-ulem ini sangatlauan memiliki nilai social yang sangat tinggi karena bisa meringankan beban tuan rumah tapi tuan rumah harus mengembaliaknnya jika sudah tiba saatnya untuk dikembalikan.

Sumber: Budaya-indonesia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar